cerita lucu / humor

3 sahabat

pada jaman dahulu, ada 3 sahabat yang suka mengembara namanya samin, bendol,dan cecep
mereka sangat akrap seiya sekata,senasib sepenanggungan kemana-mana selalu bertiga, mereka seperti saudara saja. sudah banyak kampung yang mereka lalui, banyak laut yang sudah diseberangi, dan hutan pun mereka singgahi.suka dan duka mereka alami bersama.
sehingga pada suatu hari mereka masuk jauh didalam sebuah hutan di pulau kalimantan dan bertemu sekelompok suku primitif. mereka ditangkap dan di penjara.  ketiganya tak bisa berbuaat apa-apa. mereka sangat ketakutan karena suku itu sangat kejam, apalagi baru mereka ketahui kalau suku itu suka memakan daging manusia (kanibal).

keesokan harinya ketiganya dibawa menghadap kepala suku, untuk di sembelih. sesampai di depan kepala suku cecep memohon supaya mereka di ampuni dan di bebaskan. setelah lama berdebat akhirnya kepala suku berkata  "baiklah!!  kalian aku ampuni, tapi ada syaratnya....... "
"apa syaratnya ketua?"  tanya cecep.
"kalian harus mencari buah apa saja dihutan ini sebanyak sepuluh buah......" terang kepala suku.
"tapi ingat sepuluh buah itu harus sejenis, bawa kemari sepuluh buah itu dalam waktu kurang dari 3 jam!.  Supaya kalian tidak kabur, kalian harus dikawal!!!" tambahnya
"gimana?.....  Sanggup!!"
"sanguuuup....!!!" kata mereka serempak.

berangkatlah mereka. mencari buah yang diminta kepala suku.  dalam hutan yang masih alami dan jarang sekali dilalui manusia tentu mereka dengan mudah mendapatkannya.
1,5 jam kemudian samin muncul dengan 10 buah apel ditangan nya. wajahnya nampak gembira.
"ini buah yang ketua pesan ......"
"baik!!.... sekarang masukkan sepuluh buah apel itu kedalam lubang anus mu"
seketika mukanya pucat.
"ingat....!  sewaktu kamu memasukkan buah itu, kamu tidak boleh mengeluarkan suara apapu. merintih,menangis, tertawa...... pokoknya suara.... kalau kamu melanggar nya maka lehermu aku potong, mulai!!"
dengan susah payah samin mencoba memasuk kan buah pertama,rasa sakit perih.dia tahan, akhirnya apel tersebut berhasil masuk. dilanjutkan apel yang kedua......  tapi dia tidak kuat menahan sakit dan merintih........
 tanpa bicara kepala suku langsung memenggal memenggal kepalanya.

tidak lama kemudian muncul cecep,  dia membawa 10 buah klengkeng
dan menghadap kepala suku.
lalu kepala suku memberi arahan yang sama, yaitu harus memasukkanny kedalam anus tanpa suara.
"tadi temen mu yang satu membawa 10 apel" tambah kepala suku
cecep dalam hati  "apel saja samin bisa... ini kan kelengkeng ah kecil ......   tapi k' dia gk nungguin aku ya"  disangka samin udah selamet.
satu.........Dua........  tiga......... sampai sembilan klengkeng berhasil dia masukkan, pada waktu cecep mau memasukkan buah yang ke sepuluh,    tiba-tiba......dessss   kepala suku dangan kejam kepala suku menebas leher cecep.

di akhirat cecep bertemu samin "lho min kamu mati juga? .......   aku kira kamu salamat"
"iya nih... gila tu kepala suku ngasih syarat berat banget".   " emang kamu bawa apa k' mati?" tanya samin
"kelengkeng"
"klengkeng!!!     itu kan kecil boker mu aja gede, masak kamu gak bisa?" sahut samin heran
" iya sih.....  sembilan kelengkeng udah aku masukkan,  tapi........."
"tapi kenapa...........?"
"pas aku mau masukin yang kesepuluh aku tertawa..."
"goblok kamu! kenapa ter tawa     ?"
"pas itu aku melihat bendol bawa 10 buah duren..........   sapa coba yang gk tertawa"
"Heeeeeeeeeeeee............"





perampokan

Pada suatu malam, rumah seorang janda disatroni perampok.

Maling : “Pilih MATI apa MENIKMATI ?”

Janda pun akhirnya pasrah dan digauli oleh perampok, hingga akhirnya perampok pun tertidur sampai pagi.
...
Dengan cekatan senjata si perampok di ambil oleh si janda dan si janda pun balas mengancam.

Janda : “Pilih PULANG atau DI ULANG?”· · · · · · · · · ·
maling : @#$%^&



hanya di atas yang tau!!!

Suatu malam ada tiga bocah main petak kumpet disebuah kebun yaitu Andi, Enal dan Kiky. Ketika mereka asyik bermain,datang sepasang kekasih dikebun itu untuk memadu kasih mereka.spontan ketiga bocah tersebut sembunyi, Andi sembunyi di bawah duduk kecil yang ada dipondok tersebut, Enal pulang kerumah sedangkan Kiky naik di atas pohon dekat pondok tersebut. Setiba dipondok itu  mereka (sejoli)langsung memadu kasih dan keblabasan.
Setelah puas yang wanita menyesal dan berkata,
“Mas perbuatan kita ini berdosa… bagaimana jika ada orang yang tahu tentang hal ini” kata si wanita.
Jawab si pria menenangkan si wanita,“Tenang hanya di atas yang tahu perbuatan kita ini”.
Saking ketakutan,merasa bersalah dan salah tanggap si Kiky langsung teriak
“Mas…mas…bukan cuma gua yang tahu,di bawah juga tahu…”
".............................."


Pancasilo (Padang)

ciek: Bintang Basagi Limo
duo: Rantai pangikek kudo
tigo: pohon baringin gadang tampek kito bacinto
ampek: kapalo banteng bataduk duo
limo: padi jo kapeh pambaluik nan luko..

pemudik lebaran harap Hati-hati sewaktu melintasi wilayah komering !!!

suku komering terbanyak tinggal di daerah Kayu Agung, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Martapura, ( ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur). dan OKU .

Melewati wilayah Komering, pengguna jalan memang harus hati-hati, terutama pada pekan-pekan setelah hari raya Lebaran. hati-hati disini maksudnya, Bukan karena ancaman pemerasan atau perampokan, tetapi karena pekan-pekan tersebut banyak dilaksanakan acara pesta pernikahan.

SALAH satu rangkaian ritualnya, yaitu mengarak calon pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan, selalu mengakibatkan kemacetan.

jika di sepanjang ruas jalan pada daerh tersebut ada 5 saja di gelar acara pernikahan.

Barisan keluarga mempelai laki-laki dengan membawa berbagai macam hantaran berjalan kaki menuju rumah calon besannya. Tak ketinggalan para pemusik kelintang yang memainkan musik di sepanjang perjalanan, menjadikan prosesi arak-arakan tersebut sebagai tontonan yang menarik.

Upacara perkawinan tersebut adalah bagian dari adat yang masih dipegang oleh masyarakat Komering. "Dalam kesehariannya, masyarakat Komering masih memegang baik adat maupun ajaran agama Islam," ujar Ruslan Muchdar, sesepuh masyarakat Komering.

Perkembangan zaman, diakui Ruslan, telah mengikis sejumlah adat kebiasaan masyarakat Komering. Namun, sejumlah kebiasaan belum sepenuhnya hilang, termasuk hal yang sangat sederhana, yaitu kebiasaan memelihara rambut panjang.

Rosdiana, warga Desa Sungai Tuha, Kecamatan Martapura, menuturkan, ia sempat tidak berani pulang ke rumah selama beberapa hari setelah potong rambut. "Ayah marah sekali ketika melihat rambut saya yang sebelumnya sampai ke pinggang, dipotong menjadi sebahu," tuturnya.

Masyarakat Komering yang patrilineal sangat membatasi gerak kerabat perempuan mereka. Di dalam keluarga, laki-laki bertugas menjaga martabat saudara perempuan dan keluarganya. Posisi laki-laki tersebut banyak disimbolkan dalam acara-acara adat.

Dalam rangkaian upacara perkawinan Komering dikenal ritual kandang ralang, yaitu pasangan pengantin diarak dalam kain putih yang panjangnya sampai 60 meter yang bagian tepinya dipegangi oleh sejumlah pemuda.

"Ritual tersebut menyimbolkan bahwa pengantin laki-laki akan menjamin keamanan dan kehormatan keluarga mertuanya," papar Ruslan.

Kehormatan dan harga diri merupakan hal penting bagi seorang Komering. Akan tetapi, mereka sangat pantang mengakui kesalahan di depan orang banyak.

ASAL-usul masyarakat Komering memang tidak begitu jelas. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia yang diterbitkan LP3ES menyebutkan, seperti kebanyakan kelompok masyarakat di Sumatera Selatan, sistem kemasyarakatan Komering dipengaruhi adat Simbur Cahaya.

Simbur Cahaya adalah kumpulan hukum adat setempat yang diterapkan oleh Kesultanan Palembang. Hukum adat itu selain mengatur penguasaan kesultanan terhadap berbagai sumber daya, juga mengatur beragam aspek sosial, mulai dari perkara pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan, kegiatan ekonomi, masalah keamanan lingkungan, hingga politik dalam organisasi pemerintahan marga.

Undang-undang (UU) tersebut juga mengatur wilayah kekuasaan sultan di tingkat marga. Pemimpin marga disebut pasirah. Bawahannya adalah para kepala dusun yang disebut kerio. Selain struktur pemerintahan marga, ada tingkatan-tingkatan keluarga raja adat yang masih keturunan Kesultanan Palembang.

Pengajar Hukum Adat pada Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya, Albar S Subari, menuturkan, Simbur Cahaya berlaku sebagai UU dengan menerapkan sanksi yang tegas. "Saat hukum adat masih dipegang, laki-laki yang mengganggu perempuan bisa dikenai denda atau sanksi," paparnya.

Sekretaris Penasihat Dewan Pembina Adat Istiadat Sumsel ini menilai, hukum adat berperan besar dalam menjaga ketertiban masyarakat Komering. "Tindak kriminalitas memang sudah ada sejak dulu, tetapi kontrol sosial melalui penerapan hukum adat pada masa lalu cukup kuat untuk mengurangi efeknya," ungkap Albar.

Kuatnya pengaruh hukum adat, lanjut Albar, tidak lepas dari peranan pemimpin marga. Para pasirah adalah tokoh yang benar-benar disegani karena kekuasaan mereka cukup besar. Mereka memegang fungsi yudikatif, eksekutif, dan kepolisian.

"Dulu, kejahatan-kejahatan kecil biasanya diselesaikan di tingkat marga. Para pihak-pihak yang terkait didamaikan, lalu diadakan sedekah," tutur Albar.

Peran hukum adat sebagai pranata sosial masyarakat mulai pupus menyusul dihapuskannya sistem marga oleh Pemerintah RI pada tahun 1983. "Sistem pemerintahan desa tidak punya ikatan yang kuat dengan masyarakat. Sejak itu berbagai masalah sosial pun makin sulit dikontrol," ujarnya.

Meskipun sistem marga sudah tidak berlaku, secara fisik sejumlah peninggalannya masih ada. Di tengah Kota Martapura, kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten OKU Timur, tegak berdiri bangunan bergaya kolonial yang masih terawat baik. Pada masa Kesultanan Palembang maupun pemerintahan Hindia Belanda, gedung tersebut didiami oleh asisten demang, kepala pemerintahan yang membawahi sejumlah marga.

Gedung itu sekaligus berfungsi sebagai tempat berkumpul khalayak ramai setiap kali diadakan pesta maupun pertemuan adat. "Zaman kami masih muda dulu, karena pergaulan antarmuda-mudi sangat dibatasi, orang-orang tua menyelenggarakan pesta adat untuk memberi kesempatan pada kaum muda bertemu," kisah Hadijah (60), warga Martapura.

Nenek dua cucu ini masih ingat, dengan mengenakan kain sarung dan baju kurung, para muda-mudi duduk berhadap-hadapan, bercakap-cakap dengan diawasi orang-orang tua dari kejauhan. "Kalau ada yang ingin berkenalan, biasanya menulis pesan dalam secarik kertas, lalu disampaikan oleh anak-anak kecil yang mendapat imbalan gula-gula," tuturnya.

Kebiasaan menitip surat untuk berkenalan itu hingga saat ini masih lestari di pelosok-pelosok kampung yang didiami masyarakat asli Komering. Meski saat ini pergaulan muda-mudinya sudah jauh lebih longgar dibandingkan dulu, saat adat masih dipegang ketat.

Menimbang suasana kehidupan pada masa marga yang lebih tertib, ada keinginan untuk kembali menghidupkan lembaga tersebut. "Dengan kembali ke sistem pemerintahan marga, maka adat akan kembali hidup," kata Albar.

MESKIPUN stigma sebagai masyarakat yang keras identik dengan masyarakat Komering, mereka cukup terbuka terhadap kehadiran orang luar. Warga pendatang dari Lampung, Jawa, dan Bali diterima dengan tangan terbuka. Para pendatang ini bahkan banyak yang bisa sukses, baik sebagai pedagang maupun petani.

Made, warga Belitang yang berasal dari Bali, menuturkan, ia sudah mendengar cerita tentang masyarakat Komering yang keras. "Tetapi, selama 20 tahun tinggal di sini, saya tidak pernah mendapat kesulitan dengan mereka," ujarnya.

Hal serupa dikemukakan Wak Dul, penduduk di Kecamatan Buay Pemuka Peliung, OKU Timur, asal Jawa. Sebagian besar warga desanya adalah pendatang dari Jawa yang kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani. "Menantu saya juga orang Komering. Memang dari luar mereka kelihatan keras, tetapi tidak semua orang Komering itu keras," tuturnya menerangkan.


itulah sekelumit coretan dari saya semoga bermanfaat.

cerita dari rakyat komering/ nenek moyang suku komering

suku komering,adalah salah satu suku yang tinggal di pulau  sumatra. ini aku coba cerita sedikit tentang nenek moyang suku komering tersebut, 
Kehidupan masyarakat komering berpusat disekitar Danau Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Daerah ini dikenal dengan nama Sakala Berak terletak di daratan tinggi kaki Gunung Pasagi dan Gunung Seminung tempat Danau Ranau berada. Secara harfiah, kata Sakala atau Sagala berarti Komering sedangkan kata Berak berarti luas. Sehingga daerah sekitar itu disebut masyarakat setempat dengan nama Komering yang luas.

Nenek moyang orang komering diperkirakan berasal dari Tiongkok Selatan, pada ribuan tahun yang lalu turun ke laut melalui sungai-sungai besar di Cina yang bermuara ke selatan. Akhirnya mereka tersebar di beberapa wilayah Sumatera Selatan, Lampung dan Sumatera Utara sekarang ini. Sehingga tak mengherankan bila sering terlihat suatu persamaan di dalam gerak dan tingkah laku antara orang Komering, Lampung dan Batak. Bahkan ada faham yang dibenarkan dalam kehidupan masyarakat itu bahwa mereka berasal dari tempat dan keturunan yang sama, hanya saja lambat laun sikap dan pertumbuhan makin memisah mencari jalan sendiri-sendiri.

Seperti kehidupan dan adat istiadat daerah lain, masyarakat Komering dan Lampung juga menjadikan suatu tempat yang dianggap keramat (dihormati) itu adalah sekitar Kota Liwa (ibukota Kabupaten Lampung Barat sekarang ini). Dari daerah asal itu lambat laun nenek moyang menuruni gunung dan lembah menyusuri beberapa sungai yang bermuara di laut Jawa. Orang Komering turun hingga ke Muara Masuji dan Sugihan. Sedangkan orang Lampung menyusuri Sungai Tulang Bawang, Seputih dan Sekampung yang akhirnya membentuk golongan masing-masing sampai ke Gunung Raja Basa.

Ribuan tahun kemudian barulah daerah-daerah yang mereka huni dan terisolir muulai terbuka, sehingga timbul hubungan dan komunikasi dengan dunia luar. Terbukanya daerah ini karena adanya aktifitas dari kerajaan-kerajaan yang ada. Kerajaan ini sendiri timbul karena terjadinya hubungan komunikasi antara masyarakat yang datang dan menetap.

Pada masa itu agama dan faham yang dianut oleh masyarakat adalah kepercayaan pada yang gaib-gaib dan yang maha kuasa (Animisme dan Dinamisme). Termasuklah di dalamnya menyembah kepada matahari, bulan, bintang-bintang dan gunung-gunung bahkan menyembah makhluk-makhluk yang dipercayai ada di sekitar manusia. Beberapa masa kemudian masuklah pengaruh dan ajaran agama Hindu dan Budha yang lebih mempercepat tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar dan kecil. Hingga akhirnya masuklah pengaruh dan ajaran-ajaran dari Jawa dan Agama Islam.

Didalam kehidupan budaya adat Komering dan Lampung sendiri dikenal suatu adat yang dikenal dengan Adat Penyimbang. Menurut pengertian aslinya berasal dari kata Simbang yang artinya giliran atau gantian, sehingga di sebutlah dengan arti giliran memimpin. Jadi dalam adat penyimbang seseorang dapat memimpinsesuai dengan adat yang berlaku, namun kedudukannya sebagai pemimpin kelak akan diganti dengan yang lain sesuai dengan musyawarah dan mufakat.
Hingga kini gelar penyimbang itu terus dipakai oleh orang Komering. Umpamanya ada nama penyimbang Ratu, penyimbang Tulin, penyimbang Marga serta gelar-gelar lainnya. Hal ini diberikan sesuai dengan rapat adat yang diadakan bila seseorang memasuki jenjang pernikahan. Gelar itu hampir mutlak diperlukan bagi setiap laki-laki Komering yang memasuki jenjang pernikahan. Kalau gelar itu tidak dimilikinya maka keturunannya agak gelap, artinya ia tidak mempunyai kedudukan dalam lapangan adat.

Adat istiadat yang ada kemudian secara berangsurangsur masyarakat Komering penduduknya memasuki lapangan usaha dan kegiatan masing-masing. Diantaranya ada golongan yang pada umumnya lebih cakap dalam bidang pemerintahan untuk mengurusi kepentingan umum. Ada pula yang ahli dalam bidang kebatinan dan keperkasaan dengan tenaga-tenaga gaib. Bahkan ada yang hanya mengurusi soal agama semata-mata serta ada yang ahli dalam soal berniaga.

Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat timbul apa yang dinamakan suku. Suku-suku yang terbentuk dalam golongan itu adalah: pertama, golongan pemerintaha yang menyebut lingkungannya dengan nama Suku Serba Nyaman. Kedua, golongan kebatinan disebut Suku Anak Putu. Ketiga, golongan Pasirah atau Kepala Marga disebut Kampung Pangiran. Keempat, golongan pengusaha dan pedagang disebut Suku Busali. Kelima, golongan Agama disebut Suku Kaum. Keenam, Suku Kampung Darak, dan yang ketujuh, Suku Karang Diwana.

Ketujuh suku atau golongan di atas membentuk masyarakat bersama yang teratur, mereka membentuk tiuh atau dusun tempat tinggal. Akhirnya mereka membuat pucuk pimpinan yang lebih besar gabungan dari dusun-dusun itu yang disebut Marga sekarang disebut dengan Kecamatan. Dulu nama Kecamatan adalah Semendawai kemudian sekarang diganti dengan Kecamatan Cempaka.

sekian dulu, maaf klo ada kesalahan, maklumlah saya kan bukan asli dari suku komering, jadi wajar kalau pengetahuan saya hanya segitu.